Nisa Citraning Tyas
Kelompok 43
KKN RDR Angkatan 77
Uin Walisongo Semarang
KESEHATAN MENTAL KETIKA PANDEMI COVID-19
Pandemi Covid-19 telah menyebabkan dampak yang luas dari sisi
ekonomi, sosial, hingga personal. Selain
berbahaya buat kesehatan fisik, wabah yang sudah berlangsung lebih dari setahun ini mengancam kesehatan mental. Orang-orang terpaksa menghentikan
atau mengurangi aktivitasnya di luar tempat
tinggal, bahkan wajib mengisolasi diri ketika terserang virus corona. sebab itu, kondisi mental
memerlukan perhatian ekstra. penting bagi
kita untuk menjaga kesehatan mental.
Kesehatan mental telah menjadi kekhawatiran banyak kalangan di bidang kesehatan banyak pasien Covid-19 memberikan tanda-tanda
depresif, kecemasan, serta stres pasca-trauma, baik yang
menjalani isolasi di tempat
tinggal sakit maupun pada tempat
tinggal .
Sejumlah
riset kesehatan mental Covid-19 menemukan pikiran negative dan pengalaman buruk berkaitan
menggunakan isolasi pada jangka saat lama. insan intinya merupakan
makhluk social sehingga membutuhkan sosialisasi. Perasaan sendiri atau terisolasi bisa menambah tekanan mental pasien. Bukan hanya pasien positif Covid-19, masyarakat pada umumnya pula menghadapi
ancaman kesehatan mental sebab adanya restriksi social yang
bertujuan menekan nomor penularan virus
corona. Situasi yang serba membatasi motilitas sehari-hari dapat
mengakibatkan perasaan stress.
Awalnya, orang akan merasa bosan waktu harus banyak berdiam
diri di rumah kelamaan, kebosanan itu mampu berkembang sebagai depresi serta gangguan kecemasan. Terlebih bila ada pemicu mirip terkena pemutusan korelasi kerja atau usahanya terkena akibat pandemi. buat itu, pemerintah memiliki gugus
tugas kesehatan mental Covid-19 yang
bertugas membantu warga yang rentan atau sudah mengalami gangguan mental selama pandemi.
Kesehatan mental memiliki
makna dimana keadaan sejahtera individu menyadari kemampuannya sendiri, dapat
mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat bekerja secara produktif dan
bermanfaat, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya", menurut
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kesehatan mental termasuk kesejahteraan
subjektif, persepsi self-efficacy, otonomi, kompetensi, ketergantungan
antargenerasi, dan aktualisasi diri potensi intelektual dan emosional
seseorang, antara lain. Dari perspektif psikologi positif atau holisme,
kesehatan mental dapat mencakup kemampuan individu untuk menikmati hidup dan
menciptakan keseimbangan antara aktivitas hidup dan upaya untuk mencapai
ketahanan psikologis. Perbedaan budaya, penilaian subjektif, dan teori
profesional yang bersaing semuanya memengaruhi cara seseorang mendefinisikan
"kesehatan mental". Beberapa tanda awal yang terkait dengan masalah
kesehatan adalah gangguan tidur, kekurangan energi dan pemikiran untuk bunuh
diri.
Penyakit mental lebih
umum daripada kanker, diabetes, atau penyakit jantung. Lebih dari 26 persen
dari semua orang Amerika di atas usia 18 memenuhi kriteria untuk memiliki
penyakit mental. Bukti menunjukkan bahwa 450 juta orang di seluruh dunia
memiliki beberapa penyakit mental. Depresi berat menempati urutan keempat di
antara 10 penyebab utama penyakit di seluruh dunia. Pada tahun 2029, penyakit
mental diprediksi menjadi penyebab utama penyakit di dunia. Wanita lebih
cenderung memiliki penyakit mental daripada pria. Satu juta orang melakukan
bunuh diri setiap tahun dan 10 hingga 20 juta orang mencobanya. Laporan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan biaya global penyakit mental
hampir $2,5 triliun (dua pertiga dalam biaya tidak langsung) pada tahun 2010,
dengan peningkatan yang diproyeksikan menjadi lebih dari $6 triliun pada tahun
2030. Bukti dari WHO menunjukkan bahwa hampir setengah dari populasi dunia
dipengaruhi oleh penyakit mental yang berdampak pada harga diri, hubungan, dan
kemampuan mereka untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Kesehatan
emosional seseorang dapat mempengaruhi kesehatan fisiknya. Kesehatan mental
yang buruk dapat menyebabkan masalah seperti ketidakmampuan untuk membuat
keputusan yang memadai dan gangguan penggunaan narkoba.
Kesehatan mental yang
baik dapat meningkatkan kualitas hidup sedangkan kesehatan mental yang buruk
dapat memperburuknya. Menurut Richards, Campania, & Muse-Burke, "Ada
semakin banyak bukti yang menunjukkan kemampuan emosional terkait dengan
perilaku pro-sosial seperti manajemen stres dan kesehatan fisik." Penelitian
mereka juga menyimpulkan bahwa orangOrang yang tidak memiliki ekspresi
emosional cenderung berperilaku anti-sosial (misalnya, gangguan penggunaan zat
dan gangguan penggunaan alkohol, perkelahian fisik, vandalisme), yang
mencerminkan kesehatan mental seseorang dan emosi yang tertekan. Orang dewasa
dan anak-anak yang menghadapi penyakit mental mungkin mengalami stigma sosial, yang
dapat memperburuk masalah.
Oleh sebab itu orang yang paling
berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental selama pandemic Covid-19 ini
adalah mereka yang sebelumnya telah berisiko
tinggi mengalami isolasi. Dari
penelitian Johns Hopkins University, Amerika perkumpulan, orang-orang yang sebelum pandemic sudah mempunyai lingkaran sosial yang terbatas lebih rentan terhadap masalah psikis. Sebab, jumlah sahabat atau family yang bisa diajak berkomunikasi saat pandemi lebih terbatas.
Kesepian saat isolasi sosial juga mempertinggi risiko depresi dan gangguan kecemasan pada anak-anak dan remaja. Selagi sekolah masih menyelenggarakan
pembelajaran jarak jauh, anak dan
remaja wajib lebih menerima perhatian terkait menggunakan kondisi mental
mereka. Remaja serta orang
dewasa belia berusia 18-24 tahun
diketahui banyak merasa kesepian di masa restriksi sosial. Padahal usia itu merupakan masanya mereka membuatkan jati diri lewat lingkungan pertemanan.
Tanda-tanda
kesehatan mental pada masa pandemi ini dapat dilihat melalui sikap
maupun perilaku seperti:
Pada
anak-anak serta remaja akan mudah
marah, sulit dibujuk agar menurut, mudah menangis,
kerap terbangun ketika tidur pada malam hari, merasa kesepian, ragu untuk mengatakan sesuatu,
sering memukul, menggigit, atau
melakukan tindakan keras lain, kerap terlibat pertengkaran dengan teman atau keluarga
dan agresif, suasana hati mudah berubah, tidak lagi menggemari aktivitas yang sebelumnya disukai, hilang selera makan, sulit berkonsentrasi, penurunan nilai akademik.
Sedangkan
pada orang dewasa dan usia lanjut yakni sering melamun, tidak nafsu makan, kurang berminat berkomunikasi dengan orang lain via online, bingung melakukan aktivitas di rumah, insomnia, tak dapat berpikir
jernih, lebih mudah berbuat ceroboh, terdapat pikiran buat bunuh
diri dan sebagainya.
Pemerintah telah menetapkan aturan
Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat
(PPKM) untuk mencegah penularan Covid-19.
Tak bisa dipungkiri, PPKM juga mampu menjadi faktor
risiko kesehatan mental Covid-19 bagi sebagian masyarakat. Maka dari itu untuk mengantisipasinya, berikut ada beberapa tips betah dan bahagia di rumah selama PPKM:
1. Tetap berkomunikasi
Berkat Internet, kita masih bisa bercengkerama dengan mitra-mitra lewat telepon atau video call. Manfaatkan
teknologi ini buat tetap menjaga komunikasi dengan orang lain, termasuk mencurahkan isi hati yg sebagai beban.
2. Cari
hiburan online
Hiburan pun mampu dicari di Internet. Kita mampu menikmati konser penyanyi atau band favorit, juga menonton film lawak yang memancing kita tertawa dan
bahagia.
3. Istirahat cukup
Tubuh harus cukup beristirahat, Bila fisik sehat, kesehatan mental turut terjaga.
4. Bangun
pikiran positif
Pikiran positif bisa terbangun berasal banyak hal. Seperti relaksasi, yoga atau meditasi bisa sebagai salah
satu cara. Jika perlu, konsultasi menggunakan psikolog atau psikiater buat
mendapatkan nasihat yang positif untuk mencegah
masalah kesehatan mental pada era
pandemi Covid-19 ini.
Pandemi
ini adalah sesuatu yang tak pernah kita alami sebelumnya, sebagai
akibatnya kekhawatiran yang kita rasakan
sebenarnya normal.
Kita dapat menciptakan
sebuah rutinitas baru agar kita tetap merasa produktif. Selain itu, ingatlah untuk menarik napas saat merasa panic sebab hal ini dapat membantu untuk
mengembalikan fokus.
Referensi:
- WHO. Mental health & COVID-19 [Internet].
Geneva: WHO; 2020 [cited 2020 Jul 28]. Available from:
https://www.who.int/teams/mental-health-and-substance-use/covid-19
- WHO. Coping with stress during the 2019-nCov
outbreak [Internet]. Geneva: WHO; 2020 [cited 2020 Jul 28]. Available
from: https://www.who.int/images/default-source/health-topics/coronavirus/risk-communications/general-public/stress/stress.jpg?sfvrsn=b8974505_14
- United Nations. Policy brief: COVID-19 and the
need for action on mental health. Geneva: United Nations; 2020 May 13
[cited 2020 Jul 28]. Available from: https://www.un.org/sites/un2.un.org/files/un_policy_brief-covid_and_mental_health_final.pdf
- https://www.who.int/publications/i/item/9789240003927
Tidak ada komentar:
Posting Komentar