Nama: Nisa Citraning Tyas
NIM:1803036083
Kelas: 1B
Jurusan: Manajemen Pendidikan Islam
NIM:1803036083
Kelas: 1B
Jurusan: Manajemen Pendidikan Islam
- Ketuhanan yang Maha Esa
مَنْ
مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
“Barang siapa yang mati dan ia mengetahui bahwa tidak ada
ilah yang berhak diibadahi denbgan benar melainkan Allah, maka ia akan masuk
surga” (HR. Muslim(no.26)dari sahabat ‘Ustman Radhiyallahu anhu)
Pada hadits tersebut dimaksudkan
bahwa pada saat seseorang mati dimaksudkan bahwa pada saat seorang
mati, dan ia mengetahui bahwa tidak ada tuhan selain Allah berarti meyakini
Allah Maha Esa. Relevan dengan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”
- Kemanusianan yang adil dan beradab
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasalam, bersabda:
إِذَا
حَكَمْتُمْ فَاعْدِلُوْا
“Apabila kalian memutuskan hukum maka bersikaplah adil!”
(Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahih[no. 469])
Pada hadist di atas, dijelaskan
bahwa seseorang dalam memutuskan suatu hukum atau perkara, maka diwajibkan dan
di haruskan untuk bersikap adil agar tidak terjadi ketimpangan antar pihak yang
harus bersikap adil dan beradap. Relevan dengan sila kedua “Kemanusiaan yang
adil dan beradap”.
- Persatuan Indonesia
Dalam sila ketiga ini, Pancasila mengajak bangsa Indonesia untuk mengedepankan kesatuan dan persatuan. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang diwacanakan Islam.
لَيْسَ
مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ
وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّة
Tidaklah termasuk golongan kami barang
siapa yang menyeru kepada ashobiyyah (fanatisme golongan). Dan tidaklah
termasuk golongan kami barang siapa yang berperang atas dasar ashobiyyah
(fanatisme golongan). Dan tidaklah termasuk golongan kami barang siapa yang
terbunuh atas nama ashobiyyah (fanatisme golongan). (HR Abu Dawud 4456)
- Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan dan perwakilan
إنما العلم بالتعلم والحلم بالتحلم
“Sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan dipelajari dan kebijaksanaan itu
diperoleh dengan belajar bijaksana”. (HR. Al Khothiib dalam Tarikhnya,
dihasankan oleh Imam Al Albani dalam ‘Ash-Shahih[no. 342])
Pada hadist di atas dijelaskan
bahwa suatu kebijaksanaan dapat diperolehdengan cara belajar bijaksana. Jadi
Rasulullah menegaskan bahwa seseorang dianjurkan untuk bersikap bijaksana dalam
suatu hal dengan cara belajar bijaksana. Belajar bijaksana dapat dilakukan saat
kita menjadi pemimpin yang bertanggung jawab kepada pasukan nya.
- Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Sila terakhir ini menjelaskan
bahwa bangsa Indonesia selayaknya untuk tidak berlebih-lebihan dan
bermegah-megahan dalam berkehidupan dan selalu bergotong-royong dalam membangun
negara demi kebaikan.
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طِرِيقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طِرِيقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
Barangsiapa yang melepaskan seorang mukmin daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan dunia, nescaya Allah akan melepaskannya daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan Qiamat. Barangsiapa yang mempermudahkan bagi orang susah, nescaya Allah akanmempermudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup ke’aiban seorang muslim, nescaya Allah akan menutup ke’aibannya di dunia dan akhirat. Allah sentiasa bersedia menolong hambaNya selagi mana dia suka menolong saudaranya. Barangsiapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu, nescaya Allah akan mempermudahkan baginya suatu jalan menuju ke syurga. Sesuatu kaum tidak berkumpul di salah sebuah rumah-rumah Allah (iaitu masjid) sambil mereka membaca Kitab Allah dan mengkajinya sesama mereka melainkan suasana ketenangan akan turun ke atas mereka, rahmat akan melitupi mereka dan mereka akan di kelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut (perihal) mereka kepada orang-orang yang berada di sisiNya. Barangsiapa yang terlambat amalannya, nescaya nasab keturunannya tidak mampu mempercepatkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar